Peusijuek dan Meugang: Napas Adat yang Hidup di Sukamakmue
Peusijuek dan Meugang di Sukamakmue, Sabang, tetap hidup sebagai napas adat warga: doa, tepung tawar, dan daging sapi jelang Ramadan.
Ringkasan Cepat
- Sukamakmue adalah kecamatan di Kota Sabang, Provinsi Aceh.
- Peusijuek adalah tradisi tepung tawar Aceh untuk memohon berkah pada momen penting.
- Meugang adalah tradisi memasak daging menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
- Warga Sukamakmue menjalankan kedua tradisi ini turun-temurun di rumah dan balai desa.
- Daging meugang di Sabang umumnya diperoleh dari pasar kota dan peternak lokal.
Tepung Tawar di Ambang Pintu Rumah
Di Sukamakmue, pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang ibu menyiapkan piring kecil berisi beras, kunyit, dan air dalam mangkuk. Anaknya yang baru lulus sekolah duduk di kursi kayu, menunggu prosesi peusijuek. Tradisi tepung tawar Aceh ini bukan pertunjukan. Ia dilakukan cepat, khusyuk, dan akrab.\n\nPeusijuek berarti mendinginkan atau menyejukkan. Maknanya, memohon keberkahan dan ketenangan bagi orang yang diusik, entah karena baru menikah, baru pulang merantau, sembuh dari sakit, atau memulai usaha. Di Sukamakmue, yang wilayahnya mencakup desa-desa pesisir dan perbukitan Kota Sabang, prosesi ini masih dijumpai di rumah-rumah warga. Peralatan sederhana: daun kelapa muda yang diikat, beras kuning, dan air dalam wadah.\n\nYang menarik, peusijuek tidak selalu dipimpin tokoh adat. Kadang orang tua atau kerabat yang dituakan memimpin, asal tahu doa dan urutannya. Ini membuat tradisi tetap lentur, tidak terikat lembaga, dan mudah diwariskan. Anak-anak melihat, lalu kelak mengulang. Di balai desa atau halaman rumah, peusijuek sering menyatu dengan acara syukuran, kenduri, dan doa bersama.
Meugang, Daging, dan Bau Kayu Bakar
Menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, Sukamakmue berubah suasana. Meugang adalah tradisi Aceh memasak daging sapi atau kerbau sehari sebelum bulan puasa dan hari raya. Warga berbondong ke pasar, membeli daging, lalu memasaknya di rumah masing-masing. Di Sabang, pasokan daging datang dari pasar kota dan sebagian dari peternak lokal.\n\nDi dapur rumah panggung dan rumah beton di Sukamakmue, daging dimasak dengan bumbu sederhana: bawang, cabai, kunyit, dan sedikit asam. Ada yang membuat kuah gulai, ada yang menggoreng. Bau kayu bakar dan rempah menyebar ke jalan. Anak-anak menunggu bagian daging yang paling empuk.\n\nMeugang bukan sekadar makan besar. Ia penanda waktu. Keluarga yang merantau berusaha pulang. Tetangga saling mengirim sepiring daging. Di kecamatan yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka ini, meugang menjadi pengikat sosial yang murah dan merata. Harga daging di pasar Sabang memang naik menjelang meugang, tetapi warga biasanya membeli dalam jumlah secukupnya, sesuai kemampuan.
Adat yang Tidak Dipamerkan
Peusijuek dan meugang di Sukamakmue hidup tanpa panggung besar. Tidak ada festival tahunan yang dipromosikan. Yang ada adalah praktik harian dan musiman yang dijalankan keluarga. Peusijuek hadir saat ada hajatan. Meugang hadir tiga kali setahun. Keduanya bertumpu pada hal yang sama: doa, makanan, dan kebersamaan.\n\nBagi generasi muda Sukamakmue, tantangannya bukan menghafal urutan, melainkan menjaga kebiasaan. Banyak yang merantau ke Banda Aceh atau Medan untuk sekolah dan kerja. Namun tradisi ini tetap dikenang karena sederhana. Tidak butuh biaya besar. Tidak butuh izin. Cukup niat dan sedikit bahan.\n\nDi tengah arus modernisasi Kota Sabang yang terus berkembang sebagai daerah wisata, adat ini justru menjadi penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa identitas Aceh tidak hanya ada di masjid dan syariat, tetapi juga di dapur, di piring, dan di telapak tangan yang menaburkan beras kuning. Sukamakmue merawat napas itu dengan cara paling sunyi: menjalankannya.
Orang Juga Bertanya
Apa itu peusijuek?
Peusijuek adalah tradisi tepung tawar Aceh untuk memohon keberkahan dan ketenangan pada momen penting seperti pernikahan, kelahiran, atau memulai usaha.
Apa itu meugang?
Meugang adalah tradisi memasak dan menyantap daging menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, dijalankan turun-temurun oleh warga Aceh.
Apakah peusijuek dan meugang hanya ada di Sukamakmue?
Tidak. Keduanya tradisi Aceh yang juga dijumpai di banyak daerah lain. Di Sukamakmue, keduanya tetap dijalankan warga secara rutin.
Kapan meugang dilaksanakan?
Meugang dilaksanakan sehari sebelum Ramadan, sehari sebelum Idulfitri, dan sehari sebelum Iduladha.